Generasi Z dan Budaya Membaca | Kesejahteraan Mahasiswa | Forum

Please consider registering
guest

Log In

Lost password?
Advanced Search:

— Forum Scope —



— Match —



— Forum Options —




Wildcard usage:
*  matches any number of characters    %  matches exactly one character

Minimum search word length is 4 characters - maximum search word length is 84 characters

Topic RSS
Generasi Z dan Budaya Membaca
April 29, 2017
12:50 pm
Adiba Syakila Busanamuslim
Member
Forum Posts: 6
Member Since:
March 28, 2017
Offline

MENARIK mencermati tulisan Arif Jamali Muis, Guru SMA Muhammadiyah 3 tentang generasi Z dan peran guru (KR, 18/4). Dalam tulisannya, disampaikan bagaimana peran guru dalam mendidik siswa di tengah kemajuan teknologi informasi. Guru harus bertransformasi menjadi generasi Z dan mengembangkan model belajar Higher Order Thingking Skill (HOTS). Dengan kesimpulan jika demikian tidak dilaksanakan, maka sekolah gagal dalam mendidik siswa.

Penulis tidak ingin memperdebatkan tulisan tersebut, walaupun penulis memberikan catatan. Pertama, keberhasilan sekolah tidak diukur dengan kemampuan guru mentransformasi menjadi generasi Z. Kedua, generasi Z juga tidak harus dimanjakan dengan fasilitas kemajuan teknologi informasi.

Sudah selayaknya kemajuan teknologi informasi membawa manfaat, namun tidak dipungkiri pula efek negatif yang dimunculkan juga sangat serius. Sebagaimana yang diungkap Syifa Ameliola dan Hanggara Dwiyudha Nugraha (2013) dalam artikelnya ‘Perkembangan Media Informasi dan Teknologi Terhadap Anak Dalam Era Globalisasi’ pertama, bahwa penggunaan gadgetmembawa dampak negatif yang cukup besar bagi perkembangan anak, kecanduan akan dunia digital membuat anak malas bergerak dan beraktivitas. Hal demikian akan berpengaruh pada perkembangan otak dan psikologi anak. Kedua, dalam membangun interaksi sosial, anak cenderung lemah, tidak tertarik bermain dengan teman sebaya, mereka asyik dalam dunia gadgetnya.

Dengan demikian jika sekolah mengembangkan teknologi informasi (penggunaan gadget) dengan fasilitas internet dalam kegiatan belajar mengajar, maka akan membuat ketergantungan siswa pada penggunaan gadget, karena waktu yang digunakan untuk memegang gadget lebih banyak dibanding membaca buku. Sebagaimana kita ketahui bahwa generasi Z adalah masa lahir seseorang dalam kurun waktu dari 1995 yang dalam kesehariannya telah menikmati perkembangan teknologi Informasi. Ketika Generasi Z tidak dibekali dengan matang dalam budaya literasi, maka dengan mudah mereka menjadi agen menyebar berita hoax, yaitu konten informasi tingkat kredibilitas diragukan dan dipertanyakan.

Komitmen Pemerintah

Bagaimana kondisi masyarakat Indonesia dalam membaca?. Menurut World’s Most Literate Nations, Central Connecticut State University yang melakukan penelitian tingkat membaca di negara-negara dari tahun 2003-2014 mengungkap bahwa literasi Indonesia berada dalam peringkat ke 60 dari 61 negara yang diteliti. Sedangkan United Nations Educational, motor yamaha Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menerangkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001 persen dari total penduduk Indonesia. Pemerintah sebagai pelaksana pendidikan di Indonesia telah mengupayakan generasi Z untuk gemar membaca, sebagai usaha untuk meningkatkan karakter dan budi pekerti siswa.

Pemerintah mewajibkan sekolah, sebagai lembaga pendidikan untuk menanamkan budaya membaca. Sejak tahun 2015 pemerintah mencanangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS), yaitu kegiatan membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Kegiatan ini untuk merangsang dan menumbuhkan minat baca siswa.

Sebagai bentuk komitmen dalam mengembangkan karakter dan budi pekerti siswa serta budaya literasi di sekolah. Pemerintah melalui permendikbud nomor 8 tahun 2017, tentang petunjuk teknis penggunaan BOS, mengamanatkan sekolah mengalokasikan 20% BOS untuk membeli buku. kebijakan ini merupakan keseriusan dan bentuk komitmen Menteri Muhadjir Effendy dalam mengembangkan tumbuh kembang anak melalui budaya literasi.

Membaca adalah sarana untuk merangsang kecerdasan. Dengan membaca akan tumbuh berpikir kritis, logis, reflektif serta kreatif dan inovatif. Sebagaimana dibenarkan hasil penelitian Wartono WS (2010) di Sekolah Dasar Negeri 1 Dadaha Kota Tasikmalaya, price motor yamaha R25 bahwa ada hubungan positif antara minat baca dengan tingkat kecerdasan emosional. Begitu juga penelitian Afefah Repsa (2013) di SMP Negeri di Sleman, menyimpulkan bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara tingkat intelegensi dan minat siswa dalam kegiatan membaca dengan kemampuan memahami bacaan.

Masukan

Sebagai upaya untuk meningkatkan tumbuh kembang generasi Z maka pertama, sekolah harus menerapkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Kedua, sekolah harus menaati Permendikbud No 8 tahun 2017 agar mengalokasikan 20% untuk pembelian buku. Ketiga, peran orangtua untuk membatasi anak memegang gadget dan memperbanyak memberikan buku bacaan dan permainan. Dengan demikian generasi Z akan memiliki kemampuan, yaitu kuat dalam literasi, arif dalam penggunaan teknologi.

Forum Timezone: UTC 7

Most Users Ever Online: 23

Currently Online:
1 Guest(s)

Currently Browsing this Page:
1 Guest(s)

Top Posters:

Halid Halid: 33

Halid: 8

Adiba Syakila Busanamuslim: 6

Dodin Do: 5

Cno Sudarno: 5

Indah Ratna Sari: 3

Nida Fauziyah: 2

Riska Maya: 2

Roby Awaluddin: 2

Giri Iruma: 2

Member Stats:

Guest Posters: 0

Members: 117

Moderators: 1

Admins: 1

Forum Stats:

Groups: 7

Forums: 31

Topics: 67

Posts: 78

Newest Members: mesinbor, himaipai, hme, himadiksi, hmpgsd-tasikmalaya, ansirahimadiksi, bemkemaplsfipupi, bmesa, adminrema, Nida Fauziyah

Moderators: Eduardo Menezes (4)

Administrators: bemremaupi (1)